Perguruan Tinggi Sebagai Pusat Peradaban

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh ikhwah fillah.

Segala puji syukur kita haturkan pada Allah ‘azza wajalla, karena begitu banyak nikmat yang telah Dia berikan, terutama yang terbesar adalah berupa iman dan islam. Ini yang membedakan kita dengan orang-orang jahil sehingga kita mampu memaknai hakikat intelektualitas sejatinya. Kemudian shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan pada inspirator sekaligus murobbi peradaban, Rasululloh SAW, begitu pula pada keluarga, sahabat, tabi’it dan tabi’it tabiin, serta orang-orang yang istiqomah dalam jalan dakwah ini.

Memaknai peradaban
Berbicara tentang peradaban maka kita akan membicarakan kondisi intelektualitas, produktivitas, dan harmonisasi kehidupan. Berbicara tentang peradaban maka sejatinya kita telah berupaya memperdalam Islam secara lebih komprehensif. Mengapa Islam?

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa Islam hanyalah sebuah ritual ibadah, yang mengatur interaksi kita dengan Tuhan demi mendapat predikat pahala dan dosa. Saudaraku, itu memang tidaklah salah, tetapi serasa masih pincang kita dalam memahami agama ini.degan segala syumuliyahnya. Alloh SWT telah memberikan closing statement pada firman-Nya berikut:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridhoi Islam sebagai agamu. (QS. 5 : 3)

Jadi Islam tidak hanya sekedar religi (dalam makna ritualitas ibadah), worldview (cara pandang), dan knowledge (keilmuan) belaka, tapi Islam itu sendiri adalah sebuah peradaban (Adian, 2008).

Setelah melewati masa kekhalifahan Rasululloh dan generasi terbaik umat ini, yakni masa khulafaur rasyidin, peradaban Islam mulai mengalami pasang surut kegemilangannya. Contoh kasus kita lihat pada siroh Perang Salib (Crusade) dimana Islam begitu terpukulnya ketika itu. Pasukan Salib berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslimin porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai, sehingga digambarkan Fulcher of Chartress bahwa di Masjid al-Aqsha banjir darah setinggi mata kaki akibat pembantaian yang sungguh tidak manusiawi itu. Dan memang kondisi kaum Muslimin ketika itu sangat jauh dari keislamannya. Mereka lalai dalam mengingat dan melaksanakan perintah Alloh, meninggalkan masjid, serta pendidikan mereka tidak memiliki pondasi aqidah keislaman yang kuat, sehingga sangat mudah dikalahkan musuh dan pemuda-pemudanya tidak bisa berbuat banyak.
Menarik apa yang terjadi setelah itu dalam membangun kembali kondisi umat muslim, Al-Ghazali dan ulama lainnya melakukan ishlah-ishlah (perbaikan) pada generasi mudanya. Tidak ayal dan tanpa menafikan perjuangan heroik dan kokoh strategi oleh Shalauddin al-Ayyubi beserta pasukan kaum muslimin lainnya, tetapi disini perlu dilihat bahwa pendidikanlah sebenarnya yang menjadi kunci utamanya. Karena sebelumnya dengan dibangunnya “sekolah-sekolah” yang menjadi wadah penimbaan ilmu dan sarana penguatan keimanan, dihidupkannya kembali masjid-masjid sehingga memunculkan ruhul jamaah, maka muncul pulalah generasi-generasi tangguh yang siap memimpin kembali peradaban dunia dengan peradaban Islam. Allohu Akbar!

Perguruan Tinggi Representasi Pendidikan dan Eskalasi Kebangkitan Peradaban
Perguruan tinggi merupakan wadah yang menampung civitas akademika dengan sifat berpendidikan, menggunakan logika dalam berfikir, dan terbuka terhadap segala informasi. Didalamnya terdapat elemen mahasiswa dengan kemampuan mobilisasi secara vertikal dan horizontal dalam struktur masyarakat (Yusuf, 2008). Dan berbicara tentang mahasiswa, mahasiswa memiliki banyak keunggulan, selain mahasiswa belum banyak sibuk dengan urusan dunia dan berkutat dalam hal menuntut ilmu saja, mahasiswa dikenal sebagai pihak yang netral, dimana ia selalu memberi tanpa memihak serta bergerak berdasar naluri untuk melakukan kebaikan dan perubahan. Sehingga tidak aral bahwa perbaikan peradaban dapat dimulai dari insan akademika ini.

Kembali pada entri poin bahwa pendidikan yang meng menjadi basis utama kebangkitan peradaban, maka pendidikan di perguruan tinggi haruslah memiliki pondasi aqidah dan akhlaq yang kokoh dan mantap. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa disinilah butuh pen-dakwahan yang sebenarnya. Disinilah dakwah kampus berperan.

Kemudian berbicara tentang dakwah kampus, kita akan disuguhkan pada bagian integral dari dakwah secara umum. Konsep perbaikan untuk menuju peradaban islami tentu tidak bisa secara instan dicapai, sehingga butuh tahapan mulai dari perbaikan individu, keluarga, masyarakat, hingga Negara dan dunia. Dan dakwah, dengan perjalanan yang berliku tentu membuat dakwah itu sendiri semakin unik dan menarik untuk dilalui. Tidak hanya pada konteks dakwah secara luas, tapi juga dakwah yang dirasakan di kampus-kampus, yang tentu saja rintangannya diselesaikan dengan cara-cara intelek dan berbobot, karena kebutuhannya yang menyesuaikan dengan “selera” para civitas akademikanya. Dakwah kampus, seruan yang harokah (pergerakan)-nya zhahir (tampak) pada segenap civitas akademika, dimana dinamika yang terjadi di dalamnya begitu cepat. Dakwah kampus, gerak dakwah yang menuntun pada profesionalitas, mengacu pada pola-pola dakwah yang komprehensif untuk membentuk masyarakat kampus yang Islami.

Dakwah kampus mengenal konsep akselerasi pemahaman pada perbaikan peradaban karena ada pemuda di dalamnya. So, semangat inilah yang harus dimunculkan.
Teringat asebuah pidato bung Tomo sebagai berikut:

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
Siaplah keadaan genting
Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak
Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itoe

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara , lebih baik kita hantjoer leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA ataoe MATI.

Dan kita jakin, soedara-saoedara
Pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatoeh ke tangan kita
Sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
Pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindoengi kita sekalian

Allahoe Akbar..! Allahoe Akbar..! Allahoe Akbar..!

(pidato bung tomo)

Itulah spiritnya. Individu yang intelek harus mampu menterjemahkan perjuangan dengan cara-cara mereka sendiri. Sekali lagi, disinilah pusat peradaban dibangun. Kita para pemuda yang memulainya. InsyaAlloh.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Perguruan Tinggi Sebagai Pusat Peradaban

  1. krishnoy

    mantab fi..setuju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s