Mari Wujudkan Asa Itu Sobat!

Sobat, secercah asa itu ada, dan itu yang kudambakan.
Itulah mimpiku Sobat!

Saat subuh hampir usai menunggu datangnya pagi, dimana ketika itu begitu cerah, dipadu pula dengan alunan merdu kicauan burung, masjid kampus megah yang kupijak ini terasa nyaman dan begitu menyejukkan. Sejenak kuedarkan pandangan di sekeliling, kulihat sekelompok pemudi berhijab lebar dan panjang duduk melingkar membentuk halaqoh-halaqoh kecil. Insan-insan ini begitu asyik bercengkrama, dan sekilas kulihat salah seorang dari mereka begitu bersemangat beretorika dan menceramahi yang lainnya. Barangkali dia pemimpin di lingkaran itu, entahlah. Aku tidak berani untuk begitu memperhatikannya.

Kemudian saat kulihat di dalam masjid banyak sekali pemuda yang melantunkan ayat suci sambil menunggu sang surya utuh menampakkan sinarnya. Adapula yang mulai bersiap hendak melaksanakan shalat sunnah, dan wajah mereka begitu khusyuk, penuh harap atas ridho Robb mereka.

Saat berjalan menuju utara serambi masjid, kulihat lagi tidak jauh dari pandangan, di serambi masjid ini ada beberapa pemuda lagi yang sedang komat-kamit mulutnya sambil memicingkan matanya, yang ditangannya tergenggam mushaf ukuran sedang. Ternyata mereka begitu asyik menghafal. Berbeda dengan saudara mereka yang lain yang jaraknya sekitar tiga meter saling berjauhan, bersama seorang ustadz sibuk mereka menyetorkan hafalan.

Sambil terus terdecak kagum, kusempatkan diriku shalat sunnah sejenak sebelum kota ini kutinggalkan. Di dekat tiang besar serambi masjid aku berkomunikasi dengan Robbku agar perjalananku pagi ini bisa lancar, selamat sampai tujuan.

Seusai shalat dan mataharipun semakin tinggi karena sudah menunjukkan pukul 6, kulangkahkan kaki hendak menuju ke parkiran masjid. Tapi langkahku terhenti, karena saat itu aku berpapasan dengan seorang pemuda, yang ternyata dia bergegas menuju lantai 2 masjid sebelah barat. Iseng-iseng kuikuti dia. Sesampainya disana kembali aku tertegun, begitu ramai ikhwan dan akhwat yang sedang tilawah dengan dibatasi hijab antara keduanya. Ternyata pemuda yang bergegas tadi adalah bagian dari mereka. Saat pemuda ini tiba tilawah pun dihentikan dan salah seorang ikhwan memulai pembicaraan. Ya Robb, mereka mau bermusyawarah rupanya. Subhanalloh!

Aku memohon izin dengan pemimpin forum ini untuk berdiskusi sebentar dengan pemuda yang tadi datangnya paling akhir. Kubawa ia turun ke lantai 1 dan kami pun duduk di pelataran pinggir masjid untuk berdiskusi kecil. Setelah agak lama berdiskusi seputar masjid dan kampus, kutanya tentang orang-orang yang tadi meramaikan masjid saat pagi menyingsing, baik pemuda maupun pemudinya. Allohu yarham, rupanya mereka itu adalah teman-teman pengurus lembaga dakwah kampus seperti halnya dirinya. Pemuda ini tidak bisa seperti saudaranya karena memang sedang ada agenda kajian di pesantren mahasiswa yang ditempatinya. Dan iapun harus bergegas melaksanakan syuro pada pukul 6 sebagaimana yang dijadwalkan.

Cukuplah sudah, semakin menambah kekagumanku bahwa ITS begitu berbeda dengan kampus lainnya yang kukunjungi, punya masjid dengan orang-orang tangguh di dalamnya. Aku yakin tidak lama lagi akan muncul pemimpin-pemimpin hebat yang memimpin keberhasilan negeri ini karena Islam yang menjadi inspirasi mereka. Mereka benar-benar bersungguh-sungguh dalam membangun umatnya, mendakwahkan Islam ini, dan berjihad dengan penuh pengorbanan.

Akupun berpamitan dengan pemuda ini dan menitipkan salam pada pengurus yang lain, dan berdoa semoga Alloh mengistiqomahkan kalian menapaki jalan dakwah di kampus ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7, kemudian aku menyegerakan diri menuju ke mobil dan berangkat ke bandara. Pesawat take off pukul 8 dan pukul 10 aku harus bertemu dengan supplier logistik perusahaanku di Riau. Alhamdulillah, perjalananku lancar. Kuyakin Alloh mengabulkan doaku.

At the end,

Sobat, ”Kemenangan dapat diperoleh hanya dengan pengorbanan”(Rangkuman Ash-Shaff 10-11 dalam AlQuran Terjemahan)

“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(Yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Kita adalah pemimpin publik, bukan sekedar komunitas. Konsekuensinya, perlu ada upaya sungguh-sungguh baik dalam bentuk penyadaran internal pengurus, pembangunan karakter, maupun program riil untuk menanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada wajihah kita.
Mari kita berupaya menjadi mujahid-mujahidah yang berjuang sepenuh jiwa, menikmati keindahan jalan perjuangan ini.

Ganbatte!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s