Indonesia Kehilangan Identitas

Sesungguhnya saat ini negara sedang menghadapi masa sulitnya dalam menyelesaikan masalah kesejahteraan rakyat. Indonesia tidak tahu kapan harus menanggalkan statusnya sebagai negara “berkembang”. Artinya arah pergerakan kita untuk menerobos menuju kemajuan tidak ditetapkan, dan dibiaskan oleh harapan-harapan yang semu dari para pemikir bangsa. Opsi yang diberikan pada pengembangan negara ini pun belum bisa memperjelas kemana kita akan dibawa, dan akan menjadi apa negara kita ini nantinya.

Salah satu contohnya adalah pada ranah kerja industri. Kita bisa bangga bahwa dampak krisis global yang menghinggapi Indonesia tidak separah apa yang dialami oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS). Departemen Tenaga Kerja AS, Jumat (6/2), mengumumkan sudah 3,6 juta pekerja yang diberhentikan sejak akhir 2007, dan pada bulan lalu, jumlah pekerja AS yang dikurangi di sektor konstruksi sebanyak 207.000 orang, sedang di sektor manufaktur 111.000 orang (Kompas, 9/2 2009). Hal semacam ini bukanlah menjadi hal yang patut dibanggakan Indonesia yang sampai saat ini masih mampu menurunkan 3 kali harga BBMnya. Kenapa? Karena memang negara ini belum memiliki industri. Pernyataan yang cukup separatis ini sebenarnya sangat berdasar. Selama ini yang kita lakukan hanyalah pendirian pabrik, mensubstitusi komoditas produksi dengan barang impor yang tujuannya hanya untuk mengurangi masuknya impor barang dari negara lain. Tapi tetap saja profitnya akan kembali pada penanam usaha dan pembuat mesin, yakni orang asing. Jadi jelas bahwa arah perkembangan negara ini bukanlah pada sektor industri.

Ranah kerja lain dapat kita lihat pada sektor pertanian. Dahulu negara ini dikenal dengan Negara Swasembada Pangan. Tanpa embel-embel kediktatoran orde baru dan seterusnya, negara ini memang diakui identitasnya sebagai negara agraris. Saat ini kembali sektor pertanian ini bukan lagi menjadi sektor yang jelas dalam perkembangannya menuju kemajuan. Beras saja kita masih impor. Jagung pakan untuk makan ayam saja kita masih memilih yang berkualitas tinggi, yakni jagung pakan dari Amerika. Sudah saatnya negeri ini percaya diri akan kemampuannya untuk memajukan kekayaan alamnya.

Beda halnya ketika kita menilik pada sektor untuk pasar seni dan barang antik, kerajinan, serta desain fashion. Kita bisa memanfatkan peluang ini, dimana produk-produk kerajinan (aksesori, kayu, kaca, porselen, dan lain-lain) dipandang di mata negara lain.

Untuk itu, penegasan akan arah yang akan diperjuangkan negara inilah yang harusnya menjadi sorotan utama. Kenapa tidak jika pertanian dan industri kreatif bisa kita fokuskan. Biarlah kita tidak bisa semaju negara-negara besar dalam menguasai industri, asalkan negara ini memiliki ketegasan dalam mengambil sikap, sektor apa yang menjadi fokus pengembangan. Mulailah mencintai produk-produk dalam negeri dan berusaha seminimal mungkin dalam pemakaian produk-produk luar negeri, karena memang negara ini bisa hidup mandiri. Akhirnya, status negara “berkembang” yang kita sandang pun dapat berangsur-angsur kita tanggalkan.

(Artikel ini dulunya saya buat di awal tahun, Januari 2009.. akhir tahun ternyata baru di pos di blog sendiri..)

Leave a comment

Filed under Tulisan "Engineer" TI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s